Home > Inspirasi, Jalan-Jalan > Belajar dari Pasar Tanah Abang

Belajar dari Pasar Tanah Abang

Tanah Abang atau sebagian orang melafalkannya dengan tenabang merupakan pusat perdagangan komoditi yang didominasi oleh produk tekstil dan fashion –yang menurut saya—adalah yang terbesar di Jakarta, bahkan mungkin di Indoesia.

Sabtu, 17 Oktober lalu, berdua (saya dan istri) menyempatkan diri mengelilingi los-los toko di area pasar tersebut, tanah abang. Iseng? tentu tidak, sabtu pagi, istri tercinta mendapat sms dari sobat di Abepura-papua yang isinya adalah order kaos kreatif, yang kebetulan untuk membentuk motif sesuai yang sobat tersebut kehendaki, kami memerlukan beberapa kelengkapan yang sedianya kami bisa didapatkan di tempat-tempat semacam tanah abang ini.

Tanah Abang, sungguh inilah kali pertamanya saya benar-benar menginjakkan kaki dan mengelilingi pasar yang fenomenal tersebut. Pertama kali sampai, kami langsung berjalan menyusuri los-los toko/kios di lingkunagn Blok F, di sini kita bisa menjumpai beragam produk pakaian jadi, mulai dari pakaian balita sampai busana untuk oma-oma ada di sini. Harganya pun termasuk miring bo’. Banyak toko-toko di sini menjual produknya secara grosir, meski beli eceran pun tetap dilayani.

Rame? tentu saja sama seperti kondisi pasar pada umumnya. Namun ada hal yang membuat saya takjub terhadap blok F ini, sampai ke los-los kios yang posisinya di pojok pun ternyata tak terlewatkan dikunjungi konsumen, dan transaksi pun terjadi. Subhanalloh… itulah jaminan Rizki dari Alloh SWT ya bro..Hmm, terfikir kemudian, bahwa benar “konsumen-konsumen para pedagang itu datang dari 9 pintu Rizki yang Alloh bukakan”.

Dari pasar tanah abang blok F, yang penuh sesak dan membuat kami berkeringat, perjalanan di lanjutkan ke blok A, bangunan pasar blok A ini mungkin sering kita lihat melalui iklan pasar tanah abang melalui media teve. Itu tuh..bangunan pasar tanah abang dengan ornamen / desain eksterior mirip bangunan timur tengah atau masjid.

Ramainya pasar blok A ini tak kalah dengan kondisi di blok F. Adapun hal yang membedakannya adalah di blok A ini, konsumen dimanjakan dengan suasana pusat perbelanjaan ber-AC, sueejukk, lorong-lorong kios yang tak lagi sempit, serta pilihan produk yang lebih banyak.

Soal harga produk di blok A, tetap saja tergantung pada bagaimana pintarnya kita menawar, tak heran jika banyak juga pengunjung yang berjual beli di pasar tanah abang ini (umumnya) untuk kemudian memperjual-belikannya kembali di tempat lain. Hmm…satu pelajaran lagi buat saya, ide-ide ‘find niche market, create customer dan create market’ pun terlintas di benak saya… (istri saya bilang…”emang otak cina”, huh..biar aja!).

Btw, akhirnnya setelah berkeliling kurang lebih satu setengah jam, kami pun mendapati apa yang kami cari di pasar blok A ini. Setelah pembayaran terjadi, kami pun bergegas pulang. Oiya, pulang-pergi kami memanfaatkan angkutan bajaj, dari Tebet Barat cuma ngongkos 20.000 sekali jalan, PP jadi 40.000, lumayan murah untuk kondisi jalanan jakarta yang macet dan melelahkan bo’

Tanah abang….kami akan datang lagi…untuk sebuah rencana yang lebih besar…

Categories: Inspirasi, Jalan-Jalan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: